Napak Tilas

KESALEHAN SOSIAL K. H. IBRAHIM:
(konsep ideal pembangunan mental dan religuisitas bermasyarakat)
“salana ako, pendere ce’ ako”
(K. H. Ibrahim pendiri madrasah Raudlatul Iman)
Oleh: Ahmad Baida’ie

Tatanan sosial suatu komunitas masyarakat ditentukan oleh bias pengaruh interaksi antar individu masing-masing warga. Pribadi individu yang baik memiliki andil kuat membentuk masyarakat yang selaras berlandaskan nilai-nilai kebaikan penuh nuansa kebersamaan dalam meratanya rasa berkeadilan. Perbuatan baik sama berbuah kebaikan pada setiap lini kehidupan yang mutlak dirasakan setiap anggota masyarakat bersangkutan tanpa terkecuali, meniadakan sekat-sekat pemisah berupa golongan dan kelas sosial.
Pada saat yang sama pribadi-pribadi individu masyarakat yang labil menjadi penyebab utama kesenjangan dan dekonstruksi sosial. Instrumen masyarakat yang tertata rapi dapat berubah kurang sehat karena bermacam pengaruh buruk yang timbul dari hasil interaksi sosial yang memiliki kebiasaan tidak baik. Bahkan akhirnya berpeluang melahirkan kubangan tindakan-tindakan amoral dengan bermacam intrik kejahatan.
Untuk membentuk masyarakat sosial yang harmonis memerlukan pribadi-pribadi bermental sehat yang didasarkan pada nilai religuisitas kuat. Telah menjadi niscaya apabila kesalahan sosial sepenuhnya dilatar belakangi kesalahan individu warga, sebagaimana masing-masing anggota masyarakat merupakan komponen yang berpotensi besar menentukan putih-hitam perwajahan komunitas suatu masyarakat. Dan selebihnya lebih luas dari itu, image bangsa Indonesia dapat dilihat dari perbauran masyarakat dalam sosialnya. Masyarakat adalah potensi yang berkepentingan menuai harkat dan martabat bangsa di mata dunia.
Ketika pribadi-pribadi individu masyarakat dipandang sebagai ruh interaksi sosial y ang mendapat perhatian serius. Pula secaa bersamaan masing-masing individu dihadapkan pada suatu kebutuhan urgen mengenai tuntunan dalam segala hal yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kehidupan, terutama bertutur sapa dan bersikap atas segala fenomena yang dihadapi.mereka membutuhkan sebuah dasar pegangan untuk membangun sosialnya yang sesuai harapan semua pihak tanpa kesan isolasi aspirasi individu maupun kelompok tertentu. Kekosongan dasar pegangan hidup justeru membangkitkan egoisme mementingkan kemauan dan kehendak sembarang tanpa sekalipun merugikan orang lain.

Interpretasi teks dalam pemahaman interaksi
Sebuah konsep ideal yang istimewa adalah dawuh K. H. Ibrahim yang memeberi kontribusi penting dalam aturan interaksi. Dawuh ‘salana ako, pendere ce’ ako’ ini kemudian menjadi kata mutiara yang tetap terjaga secara lisan dalam hafalan para generasi dan santri. Hanya, hemat penulis, ada kehawatiran kata-kata bijak beliau hilang bersamaan arus perubahan waktu bahkan dapat dipalsukan oleh orang tertentu ketika tidak dibukukan secra utuhm, sehingga regenarasi dan santri mendatang tidak utuh memiliki. Namun, terlepas dari komentar tadi, terap kita mendiskusikan hal utama mengenai sumbangan pemikiran tekstual kata bijak beliau di atas sebagai maksud bahasan dalam tulisan ini.
Bolehlah memberi interpretasi gamblang untuk menghasilkan sebuah pemahaman. Apabila dikaji lebih mendalam dapat ditemukan bebrapa intisari makna yang sangat besar manfaatnya bagi yang beriniasiatif mengambil hikmah. Dalam kata itu tersirat pengertian sabar menerima perlakuan atau balasan yang kurang adil atas apa-apa yang telah dipersembahkan kepada orang lain; rela menerima dan mengakui kesalahan diri sendiri tanpa harus ditutup-tutupi dengan pembenaran sebagai pembelaan; tawadu’ dan wara’ dalam berinteraksi secara horizontal maupun vertikal; dan rendah hati mengahadapi berbagai cobaan hidup.
Kenyataan relitas kehidupan memberi gambaran sebenarnya yang hakiki. Sikap rendah hati selalu menjadi penerang kehidupan, mengalahkan keangkuhan yang menyulut api permusuhan. Bersikap bijaksana dengan mengedepankan rasa kebersamaan setiap berhubungan dengan orang lain, berarti berperan menekan peluang benih tindak kriminal sosial yang dapat bergejolak sewaktu-waktu karena dominasi emosi. Orang-orang yang berbuat mengontrol detak emosinya yang dapat muncul kapan pun turut andil menyambung rasa aman dan nyamawn bagi lingkungan dalam bermasyrakat. Terutama kesiapan intropeksi diri mengukur segala hal yang telah berlalu menuju prestasi lebih baik berstatus mahluk sosial, selalu membutuhkan pelayanan sesama.
Sesungguhnya berbuat melayani sesama hal penting yang subtansi. Ia bukan berarti berposisi pada status pembantu yang rendah diri di hadapan orang lain, tetapi memberikan penghormatan yang layaek secara manusiawi sehingga timbul saling mengharagai. Bermula dari itu akan menumbuhkan rasa berbuat yang baik untuk kepentingan sesama melebihi kepentingan diri tiap-tiap individu. Akibat baiknya, interaksi sosial terbebas dari penyakit yan merusak sendi saling percaya dan ketenangan bermasyrakat. Semua hidup dalam ketentraman untuk melanjutkan kebutuhan-kebutuhan perseorangan melalui saling menyediakan dan memberikan sesuatu yang diharapkan.
Rendah hati merupakan akar dari usaha melayani orang lain. Dengan demikian, indivudu masyarakat terlepas dari pengaruh sikap sombong merasa lebih baik dan sempurna dibanding yang lain. Saling mengalah dalam setiap gesekan sosial secara elastisitas menjadi kebiasaan yang dilakukan masing-masing anggota masyarakat dalam interaksi hubungan horizontal. Tidak ada yang rela sasaudaranya tersakiti tanpa alasan yang pasti hanya karena dominan mengandalkan emosi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s